Problematika Sepak Bola Indonesia

Problematika Sepak Bola Indonesia

Masalah Yang Menghambat Kemajuan Sepakbola Nasional
 

Sepakbola kita berkembang sejak puluhan tahun lalu; atau tepatnya sejak Soeratin membentuk PSSI pada 19 April 1930. Namun, meski sudah menginjak usia 83 tahun, tetapi nampaknya prestasi sepakbola kita masih stagnan bahkan bisa dikatakan mengalami kemunduran. Apa yang sebenarnya terjadi? Banyak hal yang menghalangi industri persepakbolaan nasional untuk maju. Tidak seperti Negara lain, yang meski baru dimulai tahun 80-an atau bahkan 90-an, tetapi saat ini mereka sudah bisa berbicara banyak di persepakbolaan dunia, contohnya saja Jepang, Amerika, China atau bahkan Irak serta Kroasia.

Yang menjadi masalah mendasar dari sepakbola Indonesia adalah soal profesionalitas, baik di tingkat pengurus PSSI, Klub maupun pemain itu sendiri. Selama ini, PSSI seperti dirongrong oleh konflik kepentingan yang hingga saat ini tidak ada ujung pangkalnya. Pengurus PSSI selalu saja didominasi oleh orang-orang yang “tidak tahu bola”. Mereka berasal dari latar belakang politik, pengusaha atau yang lainnya yang kemudian membawa sepakbola kita untuk mengikuti kehendak mereka. Pecahnya PSSI menjadi dua kubu, seperti yang terjadi beberapa saat lalu, menunjukkan bagaimana masing-masing kubu ingin mempertahankan kepentingan mereka masing-masing tanpa mempedulikan keinginan masyarakat, yang notabene adalah pemilik sepakbola.

Kemudian, selama ini klub-klub di Indonesia selalu saja dijadikan komoditi politik. Setiap kali menjelang pilkada, para calon bupati, walikota atau bahkan gubernur pasti menjanjikan akan memajukan sepakbola di daerah di mana dia mencalonkan diri. Pada akhirnya, saat dirinya terpilih, dana APBD dihamburkan untuk merealisasikan hal tersebut, yang membuat klub-klub menjadi tidak mandiri.

Klub sendiri juga memiliki masalah serupa, mereka terlalu lama dimanjakan oleh dana APBD yang membuat mereka malas untuk mendapatkan sponsor; sehingga saat keputusan untuk tidak menggunakan dana APBD dikeluarkan, banyak klub kelimpungan. Pada akhirnya, pemain menjadi korban dengan tidak digaji.

Regenerasi pemain muda kita juga bisa dikatakan mandeg. Bagaimana tidak? Klub-klub lebih memilih untuk membeli pemain yang sudah jadi daripada mengangkat bibit muda binaan mereka sendiri. Mereka rela menggelontorkan uang “APBD” miliaran rupiah, tetapi tidak pernah memikirkan bagaimana regenerasi harus berjalan. PSSI sendiri pun sepertinya “acuh” dengan tidak mengadakan kompetisi di tingkat yunior. Banyak pendapat mengatakan bahwa kompetisi usia muda tidak dapat mengundang sponsor sehingga PSSI tidak mendapatkan untung.

Selain itu, masih banyak masalah lain yang harus dibenahi jika ingin sepakbola kita maju dan dapat berbicara banyak di panggung persepakbolaan dunia, antara lain mafia wasit, sponsorship, infrastruktur stadion dan lain sebagainya.

========================
By. Mitra Penerjemah